happiness is not a goal

Happiness is not a Goal, So What?

Personal

Dengan carut marutnya kehidupan perkotaan, tak sedikit yang merasa hidup ini penuh dengan tekanan, baik dari luar maupun dari diri sendiri. Perasaan takut tersaingi, takut akan ketidakpastian masa depan, atau hal lain seperti tuntutan pekerjaan, dan banyak masalah hidup lain yang tidak ada habis-habisnya.

Hidup ini pada dasarnya memang ujian bukan? perantara untuk mencapai kebahagiaan yang haqiqi, yaitu di akhirat nanti, tentunya bagi mereka yang percaya.

Loh, jadi tetep aja kan kebahagiaan itu adalah tujuan utama dari hidup setiap orang?

Bisa iya, bisa tidak.

Menurut saya, ada kesalahpahaman makna dari tujuan bahagia itu sendiri, bagi mereka yang menggantungkan bahagia di dunia ya tidak akan ada habis-habisnya.

“Gue pengen kalau uda besar, punya pekerjaan mapan, hidup gue pasti lebih nyaman dari sekarang.”

Padahal umur berapapun masalah itu akan tetap ada.

Dimanapun, kapanpun, bahagia itu diciptakan, ketenangan dan kedamaian dalam hidup itu pada dasarnya bisa kita ciptakan dari detik tulisan ini Anda baca.

Sampai kapanpun, jika kita menggantungkan kebahagiaan dalam standar waktu tertentu, kita tidak akan mendapatkannya, karena kita tidak pernah belajar untuk membentuk kondisi bahagia dalam diri kita dari sekarang.

Bahagia itu adalah bentuk sikap, bentuk pemikiran, bentuk perasaan, yang kita ciptakan sendiri.

Hampir sama sekali bukan dari faktor luar. Ya mungkin saat kita membeli tas baru atau diterima di tempat kerja yang kita inginkan, tentu kita bahagia bukan? Tapi kalau ditelusuri lagi, kita lah yang membentuk bahagia itu sendiri, lalu apa jadinya ketika kondisi setelah itu berbanding terbalik dengan keadaan awal, uang pas-pasan, kondisi lingkungan kerja rupanya tidak kondusif untuk menjalin pertemanan yang sehat.

Lalu apa kita memutuskan untuk tidak bahagia? atau memang secara alamiah kita dengan sendirinya akan merasa down?

Sekali lagi, bahagia itu kita yang membentuknya sendiri.

Beberapa waktu lalu, saya sedang dipusingkan dengan tugas akhir kampus saya, belum lagi bisnis kecil-kecilan yang saya bangun @planme.id, ingin saya organize ulang secara rapi, belum lagi masalah keuangan yang sedang saya hadapi. Semuanya saling tumpang tindih menghimpit pikiran saya, hingga saya rasanya down, lemas, kurang bersemangat untuk melakukan banyak hal, padahal deadline sudah sahut-sahutan.

Hingga suatu saat tercetus satu kalimat dalam hati saya, “tenang aja put, ntar pas uda selesai TA, pasti punya banyak waktu untuk ngejalanin bisnis yang kamu sukai ini dan ngedalamin minat kamu diberbagai hal lain tanpa harus ada distraksi dari berbagai hal yang kamu gak suka.”

Saya teringat bahwa pada masa Ujian Akhir Semester lalu sebelum kalimat tersebut terlintas, saya mencetuskan kalimat yang hampir sama seperti ini. Saat itu juga saya sedang dipusingkan karena saya tidak punya waktu untuk mengurus bisnis saya karena sedang masa ujian dan progress TA saya harus diselesaikan segera. “Tenang put, abis ujian, ntar pasti lebih longgar waktu buat jalanin bisnis dan fokus ke TA, tenang tenang.”

Saya pikir, ini pola yang sama. Apa nanti setelah saya lulus, bakal ada excuse lainnya lagi?

Hanya karena saat sekarang saya menjalani hal yang saya tidak senangi, lantas saya merasa bahwa hidup saya bisa di pending dulu bahagianya sampai beberapa waktu kedepan, dalam artian saya bakal bisa ngejalanin apapun yang saya senangi dalam beberapa bulan bahkan tahun kedepan, ketidakpastian lagi bukan?

Dan setelah saya salat Dzuhur tadi, di tengah sujud, saya menyadari bahwa ini paham yang keliru, sampai kapan saya akan mencari rasa nyaman itu? Padahal kalau saya melihat dalam waktu terdekat dulu, ada masa-masa dimana saya tetap enjoy menjalani aktivitas saya seperti itu tanpa harus stress berlebihan seperti ini. Dan saat itu adalah dimana saya mampu untuk mengontrol diri saya dengan baik, berusaha mendamaikan diri di tengah hiruk pikuk otak saya yang kelewat overthinking, dengan diam sejenak, mengistirahatkan pikiran, dan membaca buku yang saya senangi sambil selonjoran di atas kasur, atau bahkan setelah saya berdoa di dalam sujud untuk diberikan ketenangan jiwa, hati, dan pikiran oleh Yang Maha Kuasa. Sesederhana itu rupanya.

Pada masa dan situasi apapun itu, saya menyadari bahwa bahagia dan rasa nyaman itu adalah sikap kita yang harus kita bentuk atau ciptakan kapan saja ia diperlukan. Tidak menggantungkannya pada waktu atau kondisi atau  standar yang kita ciptakan sendiri, contohnya, aku akan bahagia saat aku sudah diterima kerja di perusahaan X, atau saat aku sudah menikah dengan si A, dan bla bla.

Ini sama seperti fenomena dimana alibi orang untuk menikah yaitu untuk merasakan yang namanya ”Happily ever after”. Lain waktu ketika ada kasus perceraian alasan yang diberikan oleh mereka salah satunya adalah ”I deserve to be happy”. Karena mereka merasa sebuah pernikahan adalah faktor yang membuat mereka bahagia, dan ketika bercerai, mereka juga menjadikan perceraian itu sebagai faktor yang membuat mereka bahagia. Salahkah pemikiran seperti ini?

Saya hanya bisa bilang, menggantungkan kebahagiaan pada satu kata itu tidak pernah bisa kita ukur besarnya seperti apa. Tapi ketika kita menggantungkannya pada diri kita sendiri dan Yang Maha Kuasa, tentu beda ceritanya lagi, kita meminta rasa bahagia itu dari Sang Pemilik Kebahagiaan itu sendiri, dari Dia untuk kita. Maka yang benarnya adalah cari kebahagiaan itu dari Yang Maha Kuasa, lalu berikhtiarlah untuk membentuknya dalam hidup kita sendiri.

Stop chasing something random that you believe makes you happy.

Di tengah TA dan usaha saya untuk menghandle bisnis saya ini yang sedikit membuat saya stress, saya mencoba untuk berpikir bahwa suatu saat saya akan menemukan lagi kondisi yang sama, bukan berarti ketika saya selesai kuliah waktu saya akan lebih longgar, ketidakpastian tetap saja hal yang tidak pasti. “Saya hanya perlu istirahat sejenak membaringkan kepala di atas bantal, solat atau membaca tulisan menarik, dan mari kita lanjut lagi apa yang tertunda.”

Sederhana sekali. Otak saya segar, kreativitas saya mengalir, saya merasa content. I have many reasons to smile, just be grateful for what I have already.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.