Are You Grade-Oriented?

Personal

Memang masa-masa kuliah itu benar-benar masa pembekalan diri yang paling optimal, umur yang sedang dalam tahap beranjak dewasa, pemikiran yang semakin kompleks, permasalahan-permasalahan kecil hingga besar satu per satu mulai datang, dari hal remeh sampai sesuatu yang menjadi hambatan dalam bertindak, dan salah satu sumber dimana kita dapat menemukan semua pembelajaran tersebut adalah di kampus.

Beberapa waktu lalu, saat menunggu jeda jam kuliah berikutnya, saya memutuskan untuk menunggu di dalam kelas bersama teman saya. Lalu, saya mengobrol dengannya dan ia pun menceritakan keresahannya akan sikap salah satu teman kami, yang membuat saya banyak berpikir tentang hal tersebut sampai sekarang, bukan tentang kesalahan karena saat itu saya ikut terlibat dalam beragumen akan sikap seseorang, tapi lebih kepada apa yang kami bicarakan saat itu.

Ada salah satu teman sekelas saya di kampus yang menurut saya, bahkan kami semua sekelas, terlalu defensif. Dia salah satu orang yang menurut saya sangat “ambis” di kampus, namun dibalik kata ambis itu, ada beberapa hal yang membuat kami semua resah dan tidak nyaman berteman dengannya. Terlalu achievement-oriented, lebih spesifik lagi saya mengatakan bahwa ia terlalu grade-oriented.

Saya jujur sangat tidak nyaman berteman dengan tipikal orang seperti itu, karena itu mempengaruhi pola pikir saya. Sejujurnya saya sedang di tahap mengubah pola pikir saya untuk fokus pada learning process bukan hasil. Saat saya sedang belajar di tahap itu, saya sudah seharusnya mengeliminasi lingkungan yang membuat saya balik arah ke kondisi saya sebelumnya yang terlalu mengejar sesuatu dengan cepat tanpa belajar prosesnya. Mungkin memang kata eliminasi bukan suatu cara yang bijak untuk memulai sebuah perubahan, seharusnya saya bisa tetap berkomitmen untuk tetap dalam prinsip saya walaupun kondisi dan lingkungan saya sangat berbeda jauh dengan orientasi saya kedepan. Tapi kalau boleh jujur, proses untuk berubah itu bukan hal yang mudah, sulit untuk menempatkan diri di kondisi yang bertolak belakang dengan perubahan yang saya inginkan ketika saya masih labil dan mudah goyah jika terlalu memaksakan diri, maka dari itu, step awal saya adalah dengan mencoba mencari lingkungan yang sesuai dengan tujuan saya, saat saya sudah stabil, maka secara tidak langsung saya mulai terlatih untuk berprinsip walaupun kondisi dan situasinya berbeda, itu semua saya lakukan agar saya tidak mudah goyah langsung di tahap awal.

Kembali lagi ke topik awal.

Bukan hanya saya, bahkan teman sekelas saya semua merasakan hal yang sama. Teman saya tersebut merupakan salah satu orang yang sangat insecure jika diposisikan dalam sebuah situasi dimana nilai kuliahnya terancam akan jatuh. Tak jarang dia membela-belakan hadir ke kampus walaupun sedang sakit hanya karena absensi menjadi standar penilaian. Tak jarang ia akan bertanya secara detail bobot penilaian kepada dosen akan sebuah tugas karena takut ia akan miss atau tidak mengetahui sesuatu yang membuat nilainya terancam jatuh, ia akan mencatat secara detail poin apa saja yang bisa membuat nilainya jatuh dan poin apa saja yang bisa menambah nilai. Tak jarang ia akan mengeluh kepada sekitarnya ketika nilai yang ia dapatkan tidak sesuai dengan ekspektasi awal. Nilai, nilai, dan nilai.

Orang-orang seperti ini mungkin tipikal mereka yang menganggap bahwa standar keberhasilan seseorang didapat ketika ia memiliki IP tinggi atau kuliah di universitas ternama. Ia lupa bahwa hubungan sosial itu penting, dengan bersikap seperti itu, maka orang akan tidak nyaman berteman dengannya, merasa segan, karena terlalu mengejar predikat nomor satu.

Ia pun pernah mengeluhkan kepada salah satu teman saya bahwa ia tidak memiliki teman dekat di kampus, semua orang seakan menjauhinya, ia tidak memiliki teman yang bisa diajak tertawa dan berbagi cerita bersama. Saya tidak heran jika ia merasakan hal tersebut, karena perbedaan sikap orang-orang terhadapnya memang sudah sangat kentara.

Sangat disayangkan memang, kuliah itu bukan hanya belajar di kelas, melewati berbagi ujian, mendapat nilai bagus, berhasil cumlaude, dan mendapatkan kerja dengan gaji yang tinggi. Sayangnya dibalik semua itu ada banyak rintangan-rintangan yang harus dilewati, terlalu fokus kepada hasil bukan merupakan sikap yang bijak, kita akan melupakan situasi dimana kita membutuhkan teman untuk saling membantu saat situasi sulit, kita lupa bahwa menghargai pendapat orang lain itu penting, kita lupa bahwa menjadi nomor satu itu rentan akan kesombongan, kita lupa bahwa menjadi orang yang terlalu “jauh di atas” rentan akan sikap egois, keras kepala, dan terlalu disegani orang lain yang membuat orang-orang sulit mendekatkan diri. Padahal, saat kita sudah lulus nantinya dan berada dalam lingkungan kerja, kita membutuhkan orang lain, saat orang-orang menjauh karena karakter yang kita miliki, maka tentu akan sulit untuk menjalin kerja sama dalam lingkungan kerja, hidup sendiri itu tidak akan enak ketika orang-orang dengan mudahnya bisa saling bercengkerama dengan nyaman satu sama lain dan memiliki tim yang solid.

Saya semakin paham bahwa saya tidak boleh seperti itu, saya seharusnya tidak bersikap seolah-olah menjadi yang terbaik dalam segala hal itu merupakan hal yang terbaik. Saya tidak ingin menciptakan jarak yang terlalu jauh dengan orang lain. Tujuan saya hanya satu, saya ingin bahagia, salah satu caranya adalah mengurangi berbagai insecurities tidak penting yang membuat saya terlalu banyak berpikir, membuang energi, dan malah tidak produktif di masa sekarang, karena terlalu melihat jauh ke depan, terkadang membuat kita tidak menghargai dan tidak belajar banyak hal di masa sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.