mengelola uang

How To Do a Personal Budget Planning- Challenge Review

Personal

Kali ini saya akan mencoba mereview hasil challenge saya dalam mengatur dan mengontrol keuangan saya. Anda bisa membaca pos saya sebelumnya untuk mengikuti proses saya dalam belajar budgeting ini dari awal. Dengan berat hati saya mengatakan bahwa challenge saya di bulan ini GAGAL. Berikut saya list beberapa penyebab kegagalan saya dalam challenge ini.

  1. Saya tidak pernah berpikir bahwa membuat catatan pengeluaran itu perlu, saya hanya berpatokan pada jatah jumlah bulanan saja untuk setiap kategorinya, yang penting pengeluaran saya tidak melebihi nominal yang telah ditetapkan sebelumnya. Hingga beberapa minggu yang lalu, tepatnya di bulan lalu, ketika keuangan saya sekarat (melebihi budget awal), saya membaca salah satu buku mengenai kecerdasan finansial. Di buku tersebut menjelaskan bahwa setiap orang perlu membuat catatan cash flow keuangan pribadinya setiap bulan untuk mengontrol diri sebatas mana pengeluaran yang telah ia lakukan dalam kurun waktu tersebut dan sadar terhadap sisa dana yang tertinggal, sehingga mudah untuk menahan diri melawan godaan untuk jajan dan belanja.
  2. SAYA TERGIUR DISKON! iya bener, waktu itu saya lagi jalan-jalan ke Bandung Indah Plaza, terus nemu tas cantik, saya tergoda untuk beli, akhirnya saya menggunakan budget bulanan saya yang seharusnya saya gunakan untuk belanja keperluan bahan makanan mingguan untuk membeli tas. Saya jadi nyesal setelah itu, padahal saya masih memiliki beberapa tas yang masih layak pakai (again, teori need or want?). Alhasil, karena budget untuk membeli bahan makanan saya berkurang lebih dari 50% dari jatah awal, saya jadi kekurangan uang sejak awal bulan. Akhirnya saya harus menarik uang lagi dari ATM secara tidak terkontrol. Selain itu, karena saya tidak memiliki catatan keuangan yang jelas, saya akhirnya tidak tau berapa jumlah uang yang sudah saya keluarkan di bulan tersebut, efeknya adalah saya pun menjadi tidak peduli lagi dengan pengeluaran saya setelah itu. Saya juga jadi sering jajan diluar karena budget untuk membeli bahan makanan berkurang drastis dan ludes langsung di pertengahan bulan. ,
  3. Jumlah nominal setiap pos pengeluaran saya masih tidak realistis. Seperti yang pernah saya ulas di pos sebelumnya, saya menargetkan pengeluaran saya perbulan sebesar 1.250.000, rupanya jumlah ini masih tidak realistis. Alhasil di bulan baru ini saya mulai mengkalkulasi ulang jumlah nominal yang wajar (tidak terlalu boros dan juga tidak terlalu mengada-ada), berikut pos-pos pengeluaran baru yang saya buat untuk bulan ini. Total pengeluarannya adalah sebesar 1.500.000.

Belanja Mingguan (500.000)

Saya menaikkan nominalnya dari 400.000 ke 500.000 karena saya merasa 400.000 belum bisa meng-cover keperluan makanan sehari-hari saya selama seminggu. Selama ini saya sering kalap jajan karena saya tidak membekali diri saya dengan snack sehat dari rumah, itu terjadi karena dana saya terbatas, hanya cukup untuk membeli bahan makanan seperti sayuran dll, sedangkan untuk membeli buah-buahan atau snack sehat lainnya, budget saya tidak cukup, karena bahkan sayuran organik saja harganya sudah berkali-kali lipat lebih mahal dari harga sayur biasanya, apalagi jika saya menambahkan list baru berupa buah-buahan.

Transportasi (100.000)

Untuk transportasi, saya mencoba untuk tetap menargetkan 100.000/bulan. Sejauh ini saya memang lebih rutin berjalan kaki ketika menuju kampus atau saat pulang dari kampus sekalipun, kecuali jika situasi tidak memungkinkan, misalnya hujan ataupun waktu sudah mepet. namun, satu hal yang saya tidak bisa kontrol adalah ketika saya harus bepergian ke suatu tempat yang saya sendiri belum hapal jalur angkotnya, alhasil saya lebih memilih untuk menggunakan gojek saja supaya lebih praktis dan tidak kesasar, dengan biaya yang lebih mahal ketimbang menggunakan angkot tentu membuat pengeluaran bertambah. Namun saya masih mencoba untuk tetap dalam budget segitu untuk bulan ini, sehingga akhir bulan saya bisa mengevaluasinya apakah saya masih bisa menargetkan dengan jumlah tersebut atau tidak.

Biaya Asrama (210.000)

Selama biaya asrama tidak naik, budget asrama saya alhamdulillah masih 210.000 untuk sebulan.

Dana Darurat (30.000)

Bulan sebelumnya, saya tidak membuat budget untuk dana darurat, sehingga untuk keperluan-keperluan seperti membeli alat tulis, print, atau fotocopy, saya menggunakan biaya dari pos “jajan”, sehingga duit jajan saya semakin berkurang. Padahal setiap bulannya, saya pasti memiliki berbagai keperluan kampus yang tidak bisa dihindari. Jadi saya memutuskan untuk memisahkan pengeluaran untuk jajan dan keperluan darurat.

Jajan (90.000)

Saya masih menargetkan pengeluaran 90.000 per bulan untuk jajan. Seperti yang sudah saya ulas sebelumnya, saya menggunakan uang jajan benar-benar untuk membeli keperluan makan saya apabila saya tidak sempat masak atau ada kepentingan lain, uang jajan ini sama seperti uang jaga-jaga yang bisa saya keluarkan secara tidak pasti di waktu-waktu tertentu. Selebihnya saya berharap uang dari pos ini tidak terpakai sama sekali dengan mengoptimalkan menggunakan uang dari pos belanja mingguan untuk mengolah makanan sehari-hari saya, termasuk snack. Namun tentu memerlukan effort besar untuk menahan diri agar tidak tergiur dengan berbagai jajanan atau cemilan lezat di pinggir jalan atau dimanapun.

Belanja bulanan (100.000)

Setelah mengecek berbagai bill belanja bulanan dan membuat list keperluan rutin saya setiap bulan, saya akhirnya mem-budget-kan uang belanja keperluan bulanan saya menjadi 100.000.

Sewa hosting (20.000)

Kalau dulu saya menargetkan uang cicilan bulanan saya sebanyak 10.000 per bulan untuk biaya sewa hosting blog ini. Setelah saya cek kembali, rupanya biaya pengelolaan blog saya tidak cukup hanya 120.000 per tahun, karena saya juga harus meng-upgrade space media foto blog saya untuk kapasitas memori foto yang lebih besar. Dan untuk meningkatkan space-nya tentu mengeluarkan biaya sewa yang lebih. Maka dari itu saya akhirnya mencicil sebanyak 20.000 per bulan untuk berjaga-jaga.

Travelling (200.000)

Jika saya menabung sebanyak 100.000 per bulan dengan akumulasi menjadi 1.2 juta per tahun, setelah saya hitung-hitung, jumlah tersebut tidak akan cukup untuk biaya travelling saya, karena saya memperkirakan biaya travelling ini tidak hanya termasuk biaya transportasi saja, melainkan keseluruhan biaya yang diperlukan selama saya travelling, seperti biaya makan, kendaraan umum, dan lainnya. Hal ini bertujuan agar saya tidak kalap ketika berlibur nanti jika tidak menargetkan keseluruhan budget pengeluarannya dari awal.

Skin & Body Care + Cosmetics (200.000)

Untuk budget skin care dan kosmetik, saya memilih tetap dengan nominal tersebut, karena jumlah tersebut sudah lebih dari cukup, saya masih bisa membeli keperluan produk-produk kecantikan saya dengan batasan dana 200.000 per bulan. Malah saya takut, kalau lebih dari itu, saya tergiur untuk membeli produk-produk yang tidak diperlukan.

Sedekah (50.000)

Sama seperti bulan yang lalu, saya telah menargetkan untuk rutin bersedekah setiap bulan sebanyak 50.000 dengan mengalokasikan dana ke salah satu komunitas peduli kaum dhuafa di bandung. Anda bisa mengecek akun instagramnya di “ketimbangngemis”. Komunitas ini dibentuk untuk membantu dan mengapresiasi mereka yang memilih untuk tetap bekerja keras untuk mencari sesuap nasi dibandingkan dengan berpangku tangan kepada orang lain, contohnya dengan mengemis. Komunitas ini tersebar di beberapa kota besar di Indonesia, anda bisa mengecek akun instagramnya untuk info lebih lanjut.

Satu hal yang saya sadar dan menjadi pembelajaran saya di dalam challenge ini adalah ketika kita sudah duluan gagal dengan apa yang kita kejar, kita jadi males untuk ngelanjutin, karena kita selalu mikir “boro-boro di awal aja uda gagal, apalagi di akhir”. Maka dari itu, saya pada akhirnya mensugesti diri saya untuk tidak langsung menghabiskan uang saya di awal bulan, karena mungkin saja saya memiliki pengeluaran besar menjelang akhir bulan yang tidak diperhitungkan. Jika uang saya sudah ludes dari awal, tentu efeknya saya harus mengeluarkan dana lebih banyak di luar budget awal.

Itulah pembaruan pos-pos pengeluaran saya dalam sebulan, semoga saya bisa survive bulan ini dengan nominal tersebut. Saya rasa jumlahnya sudah sangat realistis, selebihnya tentu kembali ke diri saya pribadi. Apakah saya mampu dan mau berkomitmen dengan kebijakan yang sudah saya buat sendiri atau tidak. Wish me luck!

2 thoughts on “How To Do a Personal Budget Planning- Challenge Review”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *