Endless Journey of Growing Up

Sudah lewat hampir dua bulan memang dari permulaan tahun. Namun memang dalam kurun waktu terakhir, saya tidak lagi menjadikan awal tahun sebagai momen spesial.

Namun untuk pergantian umur dalam beberapa hari ini, rasanya saya ingin menjadikan itu sebagai momen yang tepat untuk memulai project diri.

Belakangan, jika dirunut kembali, mungkin setahun terakhir, saya benar-benar sedang menghadapi masa-masa cukup sulit, masa transisi memasuki dunia dewasa dengan berbagai tanggung jawab, beban, dan tentunya berkah baru.

Tulisan terakhir saya kemarin, yang berjudul She’s Confused, benar-benar menjadi refleksi kesedihan saya selama ini. Terima kasih untuk dua orang pembaca baik disana yang telah mensupport saya sejauh ini, berarti sekali untuk saya yang sedang dirundung energi negatif ini.

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, lusa adalah hari ulang tahun saya yang ke 25. Rasanya benar-benar campur aduk, jika di tulisan tahun lalu, di penjajakan umur saya yang ke 24, saya tampak excited dengan kehidupan. Kali ini mungkin akan sedikit berbeda.

Kehidupan terus berjalan, waktu terus bergulir, kesempatan datang dan pergi, dan saya kadang kehilangan waktu dan momen untuk menyadari apa yang sudah saya lewatkan dan sia-siakan.

Dalam masalah-masalah yang hadir, terkadang pikiran saya alpha melihat memori-memori lain yang sempat datang silih berganti, bahwa saya pernah sangat bahagia bisa lulus di ITB, bahwa saya pernah sangat bahagia mendapatkan promosi jabatan di kantor, bahwa saya pernah sangat bahagia bisa tinggal di Bandung, tempat yang luar biasa memberi kehidupan yang sangat membahagiakan bagi saya.

Saya menempatkan ego saya untuk selalu berdiri di atas, terlihat menarik, punya power, dan berkharisma. Saya enggan untuk tenggelam dalam kesulitan hidup terlalu lama. Kalau sudah begitu, ambisi saya naikkan terus menerus, kalau sudah lelah, menangis, mengeluh kepada siapapun, pulang ke rumah tanpa penyelesaian apa-apa. Esok hari dengan tujuan yang sama. Begitu terus menerus, hingga mencapai setahun. Saya pun kelelahan dan kesepian.

Banyak yang salah, rupanya. Banyak sekali.

Yang terutama adalah tentang pemaknaan saya terhadap masalah itu sendiri. Beruntung 1 bulan yang lalu saya akhirnya meniatkan diri membaca salah satu buku dari Mark Manson yang berjudul The Subtle Art Of Not Giving A Fuck, yang sudah teronggok lama di lemari saya dan rasanya buku tersebut khusus ditulis untuk saya berdasarkan pengalaman saya sendiri. Namun pemaknaan sederhana yang saya dapatkan adalah bahwa saya tidak sendiri dengan dilema kepribadian yang saya miliki. Rupanya ada mereka yang menjadi putri lain di luar sana. Buku ini tentu tidak ditulis tanpa ada kasus langsung, dan bolehkah saya sedikit bersyukur bahwa saya tidak sendirian dalam perjalanan berbenah ini?

Mungkin, ada banyak putri lain di luar sana yang sedang kehilangan kepercayaan diri, yang sensitif, yang terlalu polos melihat dunia sekitar, yang terlalu memprioritaskan atensi manusia, yang mudah terombang-ambing, dan yang suka berimajinasi untuk menjadi pribadi yang sebaliknya.

Walaupun saya tau hidup tak akan luput dari masalah. Namun tanpa saya sadari, perilaku dan pemikiran saya mendikte saya untuk menjauhi masalah, agar saya melakukan sesuatu untuk tidak membuat masalah sedikitpun. Yang mulai saya pahami adalah terkadang masalah ada yang di luar kontrol diri saya sendiri. Yang seharusnya saya terima saja, dan berusaha terus untuk menyelesaikannya.

Kesalahan kedua adalah bahwa ketika suatu masalah selesai, saya terlampau bahagia sampai tidak ‘sadar’ diri, efek terkecil yang sebenarnya besar adalah, saya jadi tinggi hati, dengan mindset yang sama, pun setelahnya saya terus melakukan aktivitas untuk menghindari masalah datang.

Dengan cara berpikir tersebut, saya menjadi orang yang terlalu khawatir akan masa depan. Padahal entah masalah itu diterima atau tidak, saya butuh untuk menyelesaikannya, dan dengan itu, saya punya pilihan untuk menikmati masalah tersebut, atau mengeluh sepanjang waktu hingga masalah tersebut selesai dengan sendirinya. Kadang saya berpikir, penyelesaian masalah bukan kontrol saya sendiri, saya hanya harus terus berusaha, dan saya pun akhirnya meyakini bahwa Allah lah yang mengatur waktunya untuk saya tuntas dengan masalah tersebut.

Mengeluh dan menyalahkan orang lain hanya memberi saya kesenangan sesaat. Rasanya ada yang salah ketika saya menyebarkan emosi negatif tersebut kepada orang lain. Rasanya ada yang salah ketika saya menggiring opini orang lain terhadap seseorang. Rasanya semua hal tersebut salah dimana saya tetap saja menjadi pribadi yang penuh amarah, tidak berdaya, dan putus asa.

Padahal tanpa sanjungan dan atensi orang lain. Saya tetap bisa hidup dengan hati yang penuh di dalam diri, mengerjakan apapun yang orang lain remehkan tentang saya sebaik yang saya bisa, tentu saya bisa mendeskripsikan kebahagiaan dalam bentuk lain dalam diri saya, kepuasaan yang berbeda dibanding yang hadir setelah pujian orang lain. Beda, beda sekali rasanya. Perasaan yang membuat saya ingin terus melakukan hal yang baik ketimbang kesenangan sesaat yang ‘butuh’ dibagi bersama orang lain sampai tak ‘sadar’ diri untuk mawas diri kembali, untuk belajar dan berusaha lagi.

Tentu pemahaman baru ini, pun tidak membuat semua ini langsung mudah di awal. Saya sedang beradaptasi dengan prinsip baru ini. Namun pembelajaran lain dari kemarin adalah agar saya terus belajar untuk menahan rasa sakit yang telah saya pilih dari masalah apapun yang mungkin datang kedepannya. Nikmati dan terima mereka dengan tangan terbuka, dan jalani dan selesaikan, terus seperti itu.

Hidup adalah tentang tidak tau apapun akan masa depan, tak ada yang betul-betul pasti sampai ia benar-benar terjadi, dan lakukan sesuatu apapun yang terjadi pada akhirnya. Satu hal saja, apapun itu. Sehingga kebiasaan tersebut terus menjadi mindset dalam diri, untuk merangkul masalah sebagai teman hidup agar kita tidak terus mengejar bahagia, agar kita pun bisa medapatkan bahagia dari rasa lelah, sakit, kecewa yang dirasa. Terasa bertentangan pada awalnya. Namun setelah dijalani, rupanya mereka adalah setara, bisa kita kontrol dan ciptakan, dengan porsinya sendiri, karena sekali lagi ada Allah pemilik segala rasa tersebut.

Note:

Untuk project diri yang saya sebutkan sebelumnya, insya Allah saya tuliskan di bagian yang lain.

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.