low waste lifestyle indonesia

#2 Live With Your Values – Live A More Eco-Friendly Lifestyle

Home & Living Low Waste Lifestyle Personal

Postingan ini adalah lanjutan dari postingan pertama saya yang #1 Live with Your Values – Changing Over to a Minimalist Life.

Dari minimalist, saya akhirnya menemukan bahwa gaya hidup low-waste ini sangat berkaitan dengan gaya hidup minimalis. Seperti yang sudah saya sebutkan dalam postingan sebelumnya, seorang minimalist cenderung mengeliminasi barang-barang bahkan berbagai hal yang ia tidak butuhkan dan mungkin inginkan dalam hidupnya. Maka sudah sangat pasti bahwa permasalahan tentang waste stream ini sangat menarik untuk saya tela’ah lebih dalam dari hari ke hari.

Saya pribadi sangat menyukai alam, setelah menonton banyak documentary video tentang fast fashion trend, food waste, ocean and landfil plastic pollution dan berbagai ketimpangan sosial yang terjadi di negara berkembang, seperti Bangladesh akibat tren fast fashion ini, saya semakin merasa ada tanggung jawab besar pada diri saya sebagai individu untuk bertanggungjawab pada apapun yang saya konsumsi selama ini.

Kalau dulu saya selalu mikir “gak papa deh pakai plastik yang penting dibuang pada tempatnya, kan juga plastik sisa seringnya dipake buat nampung sampah dapur dan rumah juga, gak langsung dibuang gitu aja.”

Pemikiran ini saya anggap benar dulunya karena memang saya jarang sekali buang sampah sembarangan, jika tidak menemukan sampah, saya cenderung menaruhnya di dalam tas untuk dibuang saat saya menemukan kotak sampah nantinya.

Yah, walaupun begitu, tindakan ini juga sudah bernilai positif. Tapi setelah menonton banyak video documentari seperti di bawah ini, saya semakin merasa tindakan itu saja belum cukup, karena impact-nya jauh lebih besar. Satu plastik yang mengendap di tanah atau laut secara percuma rupanya harus menempuh perjalanan panjang untuk dipertanggungjawabkan. Bisa baca dulu postingan saya yang ini untuk info tentang plastik. Starting My Zero Waste Lifestyle Journey.

Video tersebut hanya sebagian kecil dari yang telah saya tonton selama ini, tapi dengan beberapa video tersebut sebenarnya sudah lumayan menggambarkan bagaimana dampak dari sampah (food waste, plastic, etc) mampu merubah bumi secara drastis. Bahkan saya baru tau banget kalau sisa makanan yang kebuang gitu aja bakal berefek banget ke climate change (food waste yang mengendap di tanah akan membusuk dan akan menghasilkan gas methane yang berpengaruh besar dalam merusak ozon).

Dulu saya mikir, yaudah gak papa itu kulit pisang di buang di tanah langsung kan ntar bisa secara langsung jadi kompos juga terurai di tanah, rupanya tidak sesederhana itu, pembuatan kompos tetap harus dilakukan pada media tertentu dengan treatment khusus, sampah makanan yang mengendap di tanah tidak langsung bisa bermanfaat bagi tanah kembali.

Ada yang satu pikiran sama saya gini gak sih? 🙁

low waste fashion
www.unsplash.com

Bahkan masalah tren baju yang semakin menggila belakangan ini, jangan dulu lihat H&M, Zara, dan lain-lain, online shop lokal aja, yang produksi clothing, seminggu bisa ngeluarin dua atau tiga model berbeda, bahkan bisa langsung ludes beberapa menit setelah start order dimulai. Bahkan yang beli di setiap keluaran model baru ya followers yang itu-itu aja. Kemana baju-baju lama dari 5 sampai 10 tahun yang lalu berakhir? Banyaknya ya kesimpen di kotak di gudang rumah, bahkan dibakar, atau di-reuse jadiin kain lap.

Saya pernah baca kalau siklus fashion itu siklusnya berulang, 10 tahun lalu mungkin lagi trennya baju bermotif, beberapa tahun ke belakang tren baju monkrom mulai on lagi nih, nah belakangan ini tren bermotif malah muncul lagi lagi, siklusnya berulang terus. Makanya dari dulu saya stick banget sama basic clothing.

Walau mungkin perjalanan saya masih jauh banget dari zero waste, tapi at least setiap saya nerima plastik dari supermarket atau jajan di warung karena kelupaan bawa reusable bag dari rumah itu uda mulai kerasa rasa bersalahnya, jadi makin gencar untuk bisa ngurangin plastik sebisanya tanpa harus stress dan dibawa beban. Bagaimana pun ini proses belajar ya, gak mungkin bisa diubah dalam waktu singkat langsung, karena 22 tahun hidup saya gak pernah mikir kalau satu botol plastik air mineral itu rupanya seburuk itu untuk lingkungan.

If you try and make that significant of a life change happen immediately, chances are, it won’t stick. – Lauren Singer

Kalau mau cari tau lebih mendalem, sebenarnya source-nya banyak banget di youtube, tinggal input keyword food waste, fast fashion trend, single use plastic, climate change, itu uda keliatan semua, dan enaknya zaman sekarang itu informasi yang disajikan itu bisa dalam bentuk yang menarik banget, saya sering banget kalau uda nonton satu video, ketagihan nonton yang lain juga, karena sebagus itu dalam pengeditan visualnya, jadi nyaman untuk dilihat, mudah untuk dimengerti, dan jleb jleb banget setiap nemu fakta tertentu.

Kalau uda males karena ngerasa ribet sama proses belajar ini, saya putar ulang lagi video-video yang uda saya tonton, seringnya semangat itu bangkit lagi, karena emang ngeliat sendiri efeknya kayak apa dari video-video tersebut. 🙁

Kalau emang bisa dibawa pakai tangan, ya gak usah pake tambahan plastik lagi, saya selalu nyediain tote bag kecil yang terbuat dari bahan ringan di tas saya (gunain apapun yang dipunya di rumah aja, gak harus beli lagi -> ujung-ujungnya konsep minimalis lagi), kalau belanja buah pas pulang kampus bisa langsung dimasukin tote bag tersebut.

Kadang juga bawa mason jar sendiri kalau mau beli kopi di coffee shop, bisa baca di postingan saya yang low waste coffee order.

Penerapan gaya hidup ramah lingkungan bukan cuma saya terapin dalam hal pengurangan sampah plastik, tapi beberapa aspek lainnya juga, mungkin akan saya jelaskan di postingan terpisah ya. 🙂

Highlight!

Trus bukan berarti kalau kita udah sadar masalah sampah ini jadi menghakimi orang yang masih konsumsi plastik tanpa pikir dua kali, “Be Supported buy other people – not intimidated” – Lauren Singer. Soalnya kadang orang belum paham dan belum ada pengetahuannya masalah ujung dari sampah-sampah ini. Harapannya sih emang kalau mereka liat kita ngelakuin sesuatu hal yang positif ini, mereka seenggaknya bakal merasa gak enakan walau belum terwujud dalam bentuk aksi langsung, tapi mana tau kan nantinya makin banyak orang-orang yang terang-terangan gak malu lagi minta belanjaan warung di masukin ke tote bag langsung atau jajan di gerobak bawa wadah sendiri, seneng gak sih kalau hal ini terwujud 🙂 .

Tapi tetep kalau ada orang yang buang sampah sembarangan saya agak intimidating sih, yah walaupun di hati doang, soalnya masalah campaign buang sampah pada tempatnya itu uda general banget ya, uda dari kapan tau booming, masa iya sih masih buang sembarangan itu bekas botol minum sendiri, pake aksi lempar-lemparan sirkus segala lagi, eh uda bosen ditinggal pergi 🙁 .

Tulisan ini bukan bermaksud untuk sok ngajarin atau gimana ya, saya cuma pingin sharing kalau sebenarnya kita punya pilihan untuk ngejalanin hidup seperti apa, bermakna atau tidak, bahkan kadang perasaan damai itu kerasa banget ketika kita bisa ngelakuin sesuatu yang positif yang kelihatannya emang sederhana atau remeh banget. Saat ini saya memang cuma masih mampu ngurangin plastik kresek dan beberapa item yang lain, tapi semoga terus berlanjut dan bisa melebar ke berbagai produk yang gak ramah lingkungan lainnya. Buat teman-teman di luar sana yang uda tau masalah pola hidup low waste ini, tetap semangat ya, kita bentuk lingkungan positif ini sama-sama. 🙂

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.