The Feeling of Going Back Home

Personal

Untuk yang belum tau, saya adalah orang asli Aceh yang sedang merantau ke Bandung untuk kuliah di ITB. Berhubung sebentar lagi Bulan Ramadhan dan semakin dekat dengan musim mudik, banyak perantau seperti saya yang sudah mulai hunting tiket pesawat, kereta, bus, dan transportasi lainnya dari sekarang. Berhubung asal daerah saya memang ujung Indonesia banget, jadi jalan satu-satunya yang paling singkat waktu dan tenaga adalah naik pesawat, karena kalau naik bus atau kapal bisa makan waktu sampai 5-7 hari, bisa-bisa masa liburan saya habis di jalan. Makanya saya sudah hunting tiket pesawat mudik dari bulan April walaupun saya mudik di bulan Juni nantinya. Tiket pesawat ke Aceh berkisar antara 900.000-1700.000, tergantung pesannya kapan.

Tahun lalu, saya pesan mepet banget dengan musim mudik karena memang jadwal libur kuliah saya belum pasti, kalau gak salah seminggu sebelum lebaran, alhasil saya harus merogoh kocek hampir dua kali lipat lebih banyak dari harga normal karena harga tiketnya 1700.000, belum lagi tiket balik ke Bandung. Tapi tahun ini saya sudah pesan tiketnya dari beberapa bulan sebelumnya dengan harga 974.000. Saya belum bisa tenang karena saya belum mengantongi tiket balik Aceh-Bandung saat libur saya usai nanti karena budgetnya belum ada dan harga tiket masih sangat sangat mahal, saya cek barusan harganya 1600.000 :’)

Kalau ditanya perasaan saya gimana?

Sedih pasti, apalagi jadwal libur kuliah saya biasanya seminggu sebelum lebaran sampai seminggu sesudah lebaran, itu memang masa tiket sedang mahal-mahalnya. Terkadang jadwal libur pun belum pasti, sehingga saya tidak bisa pesan dari jauh-jauh hari. Kadang saya juga merasa iri dengan teman-teman saya yang memang asal daerahnya masih kawasan pulau jawa, mereka hanya perlu merogoh kocek maksimal 500.000 pulang pergi naik kereta, banting banget kan ya sama saya. Kadang kalau memang lagi beruntung, saat di sela-sela semester terdapat jadwal libur sekitar 4 hari, mereka memutuskan untuk mudik, nah kalau saya kepikiran untuk pulang aja gak walaupun saya punya waktu libur sekitar seminggu. Jadinya kadang suka sebel sih kalau mereka ngeluh kangen rumah padahal mereka setahun bisa pulang sampai beberapa kali, apalagi yang dari jakarta, tiap minggu bisa pulang, kalau saya emang uda mutlak maksimal banget bisa dua kali setahun, saat lebaran dan akhir tahun.

Tapi, lagi-lagi, belajar meluruskan niat, saya jauh-jauh merantau kesini semoga bisa menjadi semangat untuk saya sendiri agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mata. Rasa rindu terhadap orang tua, adik, dan keluarga besar, saya usahakan menjadi pacuan saya untuk terus produktif disini melakukan berbagai hal yang saya ingin capai, berikut berbagai pengembangan mental yang semakin terlatih ketika saya hanya bisa mengandalkan diri saya saat tinggal disini.

Balik lagi ke topik awal.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya sudah membudgetkan uang bulanan yang dikirimkan orang tua saya setiap bulan untuk dana mudik, dan maksimal banget emang realistisnya saya cuma bisa pulang dua kali dalam setahun. Saya uda budgeting sendiri supaya saya gak ngerepotin orang tua setiap pulang ke Aceh, jadi orang tua gak harus mengeluarkan budget tambahan untuk saya nantinya.

Kadang kalau tiket lagi mahal-mahalnya seperti tahun lalu, terbersit dalam pikiran saya “Apa aku travelling aja ya daripada pulang?”, tiket Jakarta-Aceh, bisa dibilang setara dengan tiket Jakarta-Hongkong, berhubung saya memang selalu pulang dari jakarta karena harga tiketnya lebih murah.

Siapa sih yang gak suka travelling? Hampir semua orang kayaknya pengen travelling ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi mereka yang selalu mereka lihat di majalah, blog, ataupun instagram. Saya pun begitu.

Tapi saya diingatkan kembali bahwa momen bersama orang tua itu adalah segalanya. Saya sudah besar, orang tua saya pun sudah berumur. Sekritis apapun keuangan saya saat itu, jika masih bisa saya usahakan untuk pulang, maka saya akan pulang, walaupun harus mengorbankan berbagai hal. Bukan apa, saya tidak ingin menyesal, saya hanya bisa bertemu orang tua dan keluarga besar saya hanya dua kali dalam setahun, Juni dan Desember, di bulan-bulan lainnya saya tidak tau bagaimana kondisi ayah saya, ibu saya, adik saya, dan keluarga saya yang lain. Saya tidak ingin hilang kesempatan bertemu mereka jika memang hal yang tidak saya inginkan terjadi. Tapi memang semua orang harus siap bukan?

Jika terkendala masalah keuangan, saya selalu berpikir bahwa menyambung silaturrahmi malah akan memperlancar rezeki. Dan memang benar, setiap pulang ada saja sanak saudara yang memberikan saya uang “jajan” untuk saya yang selalu saya syukuri sedikit atau banyaknya. Kalau niatnya benar, insya Allah, Allah akan mudahkan jalannya.

Jadi, tidak perlu takut tidak ada uang, selagi kita masih bisa usahakan, usahakanlah, bertemu dan berbakti kepada orang tua adalah hal yang mulia, bukan sesuatu yang harus dipikirkan dua kali. 🙂

 

1 thought on “The Feeling of Going Back Home”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *