silaturrahmi

Hikmah Mengunjungi Kerabat dan Menyambung Silaturrahmi

Personal
Empat hari yang lalu saya berkunjung ke tempat kerabat saya di bekasi untuk mengisi waktu libur saya yang hanya sepuluh hari, tepatnya di rumah Pak Cek (sebutan adik nenek di Aceh) saya, beliau memiliki tiga orang anak, yaitu kak mia, bang fani, dan kak tia. Awalnya saya merasa takut dan enggan untuk berkunjung ke rumah mereka karena saya tidak pernah bertemu dengan mereka sekalipun, hanya Pak cek saja yang pernah saya temui beberapa kali, terlebih lagi saya salah satu orang yang sulit berinteraksi dengan orang baru. Namun ayah saya tetap menyarankan saya kesana untuk mengenal lebih jauh dan lebih dekat dengan keluarga sendiri sehingga tidak putus silaturrahmi antar keluarga.
Sesampainya disana, di luar ekspektasi, saya disambut dengan sangat hangat oleh mereka, mereka menganggap saya lebih dari sekedar tamu dan memberikan yang terbaik dari yang mereka bisa. Saya pun tidak menyesal untuk mengisi waktu libur singkat saya disana. Saya sadar kebanyakan ketakutan yang kita rasakan berasal dari pemikiran yang kita buat sendiri tanpa didasari apapun, itu hanya persepsi tanpa pembuktian karena kita tidak mampu untuk menghadapai kenyataan, bahkan kebanyakan dari ketakutan itu tidak pernah terjadi dan malah sebaliknya banyak sekali faedah dan berkah yang terjadi ketika kita mampu melewatinya. 

IMG-20160521-WA0001

 

Ada beberapa point penting yang saya tangkap dari keluarga Pak Cek yang bisa menjadi pembelajaran untuk saya sekarang dan di masa mendatang.

MENDIDIK ANAK

Pak cek sendiri sudah memiliki tiga orang cucu cantik yang masih balita dari ketiga anak beliau. Mereka adalah salah satu keluarga yang sangat mementingkan cara mendidik anak dengan benar. Contohnya selalu mengucapkan terima kasih kepada anak setiap anak memberikan sesuatu walaupun itu bukan barang yang penting, berkomunikasi dengan lembut terhadap anak, dan selalu meluangkan waktu untuk anak walaupun mereka terlihat lelah setelah bekerja seharian.

MENITIPKAN ANAK KEPADA PENGASUH

Kak mia dan kak tia memiliki masing-masing satu pengasuh perempuan untuk anak mereka karena tuntutan kerja yang menyebabkan mereka harus pergi pagi pulang sore. Sehingga intensitas mereka bertemu dengan anak hanyalah pada malam hari saja (bisa saja anak sudah tidur). Saya tidak menyalahkan atau menyudutkan mereka yang notabene adalah wanita karir, namun memang setiap pekerjaan ada resikonya, dan resiko dari pekerjaan mereka sebagai karyawan perusahaan menyebabkan mereka harus sedikit merelakan masa-masa indah ketika mendidik dan memantau tumbuh kembang anak yang menurut saya pribadi hal yang sangat sayang untuk dilewatkan, seperti momen-momen memandikan anak, menenangkan anak yang rewel, walaupun itu melelahkan dan menguras emosi tapi tentunya itu adalah sesuatu yang bisa dikenang sebagai perjuangan seorang ibu yang tidak bisa dibalaskan dalam bentuk apapun, bahkan diluar sana banyak sekali perempuan yang sangat menginginkan untuk bisa menggendong, mengantar sekolah, ataupun menyusui anak mereka sendiri, namun tidak tersampaikan karena derita penyakit ataupun lainnya.
 
Seringkali saya melihat anak kak mia dan kak tia ketika hari sabtu minggu terlihat enggan untuk didekati oleh orang lain, hanya ingin bersama orang tuanya saja, mungkin anak kecil memiliki insting tersendiri dimana mereka tidak mau melewatkan waktu dengan orang lain di saat orang tuanya ada di dekat mereka, hal yang sangat jarang ditemui. Bahkan mungkin quality time bersama keluarga yang seharusnya bisa dilakukan di akhir pekan tidak terealisasikan karena hari tersebut digunakan untuk beristirahat oleh orangtuanya, sehingga ujung-ujungnya anak hanya mingkem di rumah. Saya tidak sedang memojokkan mereka yang memilih menjadi wanita karier disini, namun saya hanya sedang menuangkan pemikiran saya bahwa ada resiko dan konsekuensi yang harus dijalani dari setiap pilihan, dan siapapun harus sudah siap dengan semua itu, serta sebisa mungkin mengurangi resiko terburuk yang terjadi dari pilihan yang diambil, dari contoh kasus ini, orang tua bisa menghubungi anak secara rutin melalui pengasuh mereka, saling video call, memantau perkembangan anak melalui pengasuh atau guru mereka atau sekedar bercengkerama dengan anak seharian untuk mengobati rasa rindu anak kepada orang tuanya di akhir pekan atau selepas pulang kerja, itulah salah satu hal yang saya amati dari kak mia dan kak tia agar tidak kehilangan momen-momen penting bersama anak mereka.

SALING MENCINTAI TAK KENAL UMUR

Pak cek dan istrinya mungkin sudah berumur sekitaran 70 tahun. Namun mereka masih saling menyayangi satu sama lain. Saya bisa melihatnya dari cara pak cek bertutur kata kepada Neli (istri pak cek), lembut dan penuh kasih sayang. Bahkan seringkali Neli mengirimkan pesan singkat melalui telepon seluler kepada Pak Cek di malam hari jika Pak Cek sedang di luar untuk sekedar memberitahukan bahwa Neli akan tidur terlebih dahulu. Mereka pun tidak segan untuk saling memanggil dengan nama kesayangan ketika saling berbincang. Sekarang banyak sekali permasalahan umur menyebabkan hubungan suami istri tidak harmonis lagi, namun terbukti dari keluarga ini tetap langgeng dan memiliki anak-anak serta cucu-cucu yang penyayang, penuh perhatian, dan lembut terhadap pasangan dan anak mereka.
 
Mungkin begitulah bukti dari peribahasa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, bagaimana karakter orang tua begitulah yang diturunkan secara alamiah kepada anak. Sehingga banyak sekali terjadi dimana sosok “orang tua baru” sebisa mungkin untuk bersikap lembut dan baik kepada anak-anak mereka, walaupun masih di dalam kandungan sekalipun karena mereka tau anak akan melihat dan merasakannya, walaupun pada dasarnya mereka adalah pribadi yang keras kepala dan emosian, tapi  mereka berusaha untuk tidak mementingkan ego mereka karena tidak ingin anak-anak mereka sama buruknya seperti mereka, hakikat seorang ibulah yang ingin melahirkan anak-anak mereka menjadi anak yang berkualitas yang memiliki hati yang lembut, pikiran yang cerdas, dan perilaku yang baik, tentunya ini tidak terlepas dari sosok suami yang selalu mendampingi sang istri dan turut mengambil andil ketika menjalani suka duka merawat buah hati mereka. 
 
Tak heran banyak wanita di luar sana yang berubah menjadi lebih baik ketika diberikan anugrah untuk memiliki seorang anak, anak adalah berkah dalam sebuah keluarga, dan sudah sepatutnya mereka dirawat dan dijaga dengan sebaik-baiknya dan sehati-hati mungkin. Semua berawal dari sosok ibu, ibu yang baik akan melahirkan anak yang baik, begitu juga sebaliknya. Tidak lengkap rasanya seorang wanita yang sudah menikah tanpa dikaruniai sosok anak dalam keluarganya. Karena terkadang anaklah yang menyatukan kedua orang tuanya yang berkonflik, anaklah yang bisa meredam emosi dan menghilangkan lelah kedua orang tuanya, dan tentunya anaklah yang menjadi perantara rezeki-rezeki yang Tuhan berikan kepada orang tuanya. Namun jangan sampai anak menjadi tujuan, sehingga mereka yang belum dikaruniai anak merasa putus asa, anugrah bisa dalam bentuk apapun, kebahagiaan bukan dari luar, kitalah yang menciptakannya sendiri.
 
Ada banyak berkah dari menyambung silaturrahmi, tentu tidak ada yang salah dengan ungkapan “silaturrahmi membawa rezeki”, rezeki tidak melulu soal harta bukan? lebih dari itu, pembelajaran yang didapatkan merupakan investasi jangka panjang yang tidak ada artinya dengan harta yang bisa habis kapan saja.

1 thought on “Hikmah Mengunjungi Kerabat dan Menyambung Silaturrahmi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *