Acceptance

Personal

Tak pelik sebernarnya,

Jauh di masa saya remaja,  mengakui orang lain lebih hebat dari saya akan hal-hal tertentu, merupakan hal yang begitu sulitnya. Saya menolak mengakui bahwa seseorang datang dengan paket sempurna (menurut saya saat itu), wajah cantik, otak pintar, pembawaan anggun, lembut, dan berkepribadian baik.

Rasa-rasa tidak ingin dikalahkan seperti itu membuat saya menampik dan tidak mau menerima bahwa ada orang-orang seperti ini di kehidupan saya kemarin, sekarang, dan akan datang.

Saya menyadari ini tidak baik.

Rasa-rasa tersebutlah yang membuat saya terus menyangkal dan takut menghadapi kehidupan. Saya menjadi menarik diri, saya menolak kesempatan yang hadir kepada saya dalam bentuk pertemanan, berkarya, dan lainnya karena rupanya rasa-rasa tersebut terus mendarah daging dan menjadi sebuah penyakit baru dimana saya krisis kepercayaan diri.

Saya takut menghadapi dunia karena ada yang lebih pintar dari saya, ada yang lebih baik kepribadiannya, ada  yang lebih cantik, ada yang lebih jauh menguasai sebuah bidang, karena pada dasarnya dengan berbagai pergolakan rasa tersebut, jauh di dalam hati saya mengakui bahwa mereka hebat, dan saya masih tertinggal jauh.

Saya terus menerus bersembunyi dan hanya akan tampil saat saya berkemungkinan “menang” dalam kondisi tersebut, dimana saya punya nilai lebih dari orang lain, disitulah saya akan percaya diri. Namun ketika mereka yang disekeliling saya jauh lebih hebat dari saya, disitu saya akan memilih di sudut, menjadi pendiam, dan menarik diri dari obrolan, karena takut dinilai bodoh dan tidak cocok dengan circle tersebut, atau berbagai alasan lainnya.

Saya akhirnya mengakuinya, lama menyimpan dan menolak memiliki sifat tersebut, akhirnya saya mau jujur mengakui bahwa saya salah dalam menilai diri sendiri dan orang lain. Saya menolak kebahagiaan yang datang kepada saya, saya menjadi orang yang dingin, ketus, dan tidak ramah.

Saya paham pada akhirnya untuk terus melangkah maju saya harus mau mengakui bahwa si A lebih hebat di bidang menulis daripada saya sendiri, si B bisa menata hidupnya lebih baik, si C punya ketenangan yang saya irikan, si D lebih bagus ibadahnya dari saya, dan sebagainya. Pengakuan-pengakuan ini membuat saya lebih tenang dan mau terus menerus memperbaiki diri dengan niat yang benar, bukan karena ingin lebih baik dari orang lain, tapi karena memang ada yang salah dari diri saya dan harus saya perbaiki atau sekedar karena saya harus terus meng-upgrade diri.

Selain itu, langkah kaki dan hati menjadi lebih ringan, ekspektasi tidak saya gantungkan setinggi langit berikut asumsi yang secara tidak langsung saya coba tampik ketika dia datang, saya tidak terlalu lagi mengemis atensi orang lain untuk mengakui apa yang saya miliki, berjalan terus sebagaimana seharusnya, mencontoh mereka yang lebih hebat, dan untuk terus membumi menjalani kehidupan.

Jika dulu saya menolak untuk meniru mereka dengan terang-terangan di depan mereka langsung, dengan mengakuinya, saya jauh lebih ringan untuk langsung terjun membantu teman saya yang sedang membantu orang lain, mau mengikuti mereka yang bergerak langsung ke musolla saat azan tiba di saat saya sebelumnya hanyut akan aktivitas sendiri, mau bertanya cara mereka menangani permasalahan yang mana saya sulit menyelesaikannya, saya mau nimbrung belajar dari mereka yang saya anggap remeh sebelumnya (Astaghfirullah), dan mengikuti obrolan dimana sepatutnya saya menjadi pendengar saja dan belajar dari mereka tanpa tuntutan diri ikut berargumen tanpa dasar karena sekedar keinginan untuk diakui, sesederhana mengakui dan tidak malu menampilkan kelemahan diri, dan berbagai hal sederhana lain yang saya tutupi dan tidak ingin orang lain melihatnya, sayangnya semua ini saya simpan sampai menjadi pikiran-pikiran jahat yang saya sendiri malu jika dituntut mengakuinya.

Semua masih ber-progress, dan mengakuinya membuat saya lebih cepat berusaha menyembuhkan diri. Bersikap netral dimana saya menerima bahwa saya kurang pada beberapa hal dan lebih dalam beberapa hal yang lainnya mungkin salah satu solusinya saat ini, tidak menampik diri bahwa ada tanah dan langit sebagai komposisi hidup yang tidak bisa saya tolak sama sekali, dan mungkin memang seperti itu cara Allah memberi panutan kepada manusia untuk terus meng-upgrade diri tanpa malu mengakui kelemahannya kepada diri sendiri dan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.