Accept Life As It Is

Personal

Hai, saya skip nulis lagi ya, padahal niatan sebulanan lalu ingin aktif nulis lagi, tapi sayangnya saya gak nemu momen yang tepat, fisik sudah terlampau lelah dengan rutinitas saya yang baru.

Tapi tadi saya akhirnya paksakan untuk log in blog saya ini, dan mengalirlah cerita ini satu per satu tanpa ide apapun sebelumnya.

Belakangan saya paham lagi, kalau saya sangat menyesali kealpa-an saya dalam menikmati setiap momen yang saya miliki dan lalui sejak dulu, rasa sulit dan sedih yang pernah saya rasakan benar-benar saya anggap derita dimana saya harus cepat-cepat keluar dari fase itu, menjemput kondisi yang lebih baik. Saya memaksakan diri memahami bahwa hidup yang baik harus terus dikejar, sedangkan kalau dipikir-pikir, hidup itu tidak selalu naik, yang turun pun harus juga diterima, sehingga alur itu bisa dinikmati, dan bisa dikenang secara baik suatu hari nanti.

Saya paham, yang indah-indah memang selalu nyaman ditempati, namun sayangnya fasenya tidak selalu seperti itu, sedih dan sakit itu rupanya bisa dinikmati dengan porsinya sendiri, maksud saya, lelahnya, sedihnya, sakitnya, rupanya bisa bertemu tenang saat jiwa mau menerima bahwa itu sudah seharusnya terjadi dan mau berpikir “tenang saja, memang sedang waktunya begini”, saya rasa jauh lebih baik untuk bersikap dan berpikir dengan cara seperti itu.

Sebagai contoh, masa-masa pengejaran saya untuk kuliah di ITB dulu sampai tahun ketiga, masa-masa lelahnya beradaptasi dengan lingkungan hidup dan perkuliahan baru di Bandung dan ITB, saya rasa kalau saya mau bersabar, ikhlas, dan terus bersyukur, nikmatnya bisa saya rasakan sendiri saat kontrol diri sudah bisa saya genggam pasti.

Kali ini, saya pun akhirnya mencoba berdamai dengan apapun kondisi yang saya rasakan, entah itu lelahnya, khawatirnya, sakitnya, semua punya porsi masing-masing yang harus saya sadari kapan harus dilawan dan diterima saja.

Teman-teman, pada akhirnya yang saya sadari hidup akan terus berputar tentang diri kita sendiri, entah hidupmu melibatkan siapapun dan kondisi apapun itu, pada akhirnya obatnya hanya kita yang tentukan sendiri, yang di luar sana hanya perantara-perantara yang berwujud sebagai ujian dan nikmat yang harus diterima. Saya rasa kalau sudah seperti ini, hati kita akan lebih tenang, tidak menuntut siapapun atau apapun untuk berubah, karena hanya dengan mengubah hati dan pikiran yang mutlak bisa kita kontrol, sedikit banyak jauh lebih memberi dampak baik daripada mempengaruhi yang di luar kuasa. Saya tau itu tidak mudah, kalau emosi sudah di luar kendali, rasanya tulisan ini jadi gak punya nilai apa-apa lagi, makanya sesekali saya baca ulang tulisan lama, supaya jadi pengingat kalau saya pernah punya perasaan ini ketika mood saya lagi gak bagus, dan semoga ini juga membantumu yang sedang patah hati dengan kehidupan. Tapi ini hanya kesimpulan saya, semoga benar, selamat menjemput minggu yang baik kedepan. 🙂

Ngomong-ngomong, rasanya senang sekali bisa menulis lagi, doakan saya bisa terus tenang dan bisa lancar menulis lagi ya. 🙂

4 thoughts on “Accept Life As It Is”

  1. Aamiin, semoga bisa terus menulis, Put. Hal-hal semacam di atas sedikit banyak sudah kualami semenjak fase mulai nyusun skripsi. Banyak waktu luang jadi banyak juga waktu mikir. Di saat itulah aku mulai mikir kayak yang di atas. Terutama bagian hidup pada akhirnya berputar pada diri sendiri, benar banget sih. Ya namanya hidup, semakin dewasa dan semakin kita mau ngembangin pikiran, semakin banyak yang disadari dan buat kita mikir ulang tentang apa yang kita sudah dan akan lakukan. Semangat, Put!

    1. Iya ndra, awal sadar waktu uda akhir2 mau selesai skripsi, bertambah waktu wisuda, dan akhirnya mutlak sadar waktu sekarang ini, banyak momen terlewatkan tanpa sadar sesuatu ya. :”)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.