putri nuzulil sidang

A Journey to S.Mn

Personal Product Reviews

Saya masih ingat awal tahun 2015 lalu, saat itu saya harus bolak balik rumah sakit karena adik saya sakit keras. Lantas awal bulan maret 2015, adik saya berpulang ke Rahmatullah.

Saat itu saya sudah mulai persiapan SBMPTN untuk yang ketiga kalinya, namun setelah adik saya sudah tiada, saya berpikir ulang, apakah saya harus melanjutkan keinginan saya untuk kuliah di ITB atau tidak, pasalnya kami adalah keluarga kecil, kami tiga bersaudara, jika saya kuliah di luar, maka sudah pasti orang tua saya akan sangat kesepian mengingat satu-satunya adik yang saya miliki saat ini juga lebih banyak berkegiatan di luar.

Saya sempat lama berhenti belajar saat itu, karena saya belum bisa mengambil keputusan, setiap saya belajar rasanya saya selalu dibayangi perasaan bahwa ini akan sia-sia jika saya belum pasti akan lanjut atau tidak. Selain itu, walaupun saya sudah tau jika kuliah di SBM bisa dirampungkan dalam kurun waktu kurang lebih 3 tahun, namun saya juga harus mencari alasan lain untuk menerima kenyataan jika saya lulus di pilihan kedua (manajemen UI) atau ketiga (manajemen UGM) yang masa perkuliahannya kurang lebih 4 tahun, saya harus lulus dua tahun lebih telat daripada teman-teman seangkatan saya. Lulus satahun lebih terlambat mungkin tidak terlalu terasa, namun lulus dua tahun lebih terlambat rasanya terlalu berbeda, bahkan umur saya setelah lulus nantinya adalah 24 tahun.

Saat saya sudah terlampau bingung, saya akhirnya menyisipkan doa baru kepada Allah, agar saya selalu dilimpahkan rasa penerimaan atas apapun hasilnya nanti, entah itu saya berhasil lolos atau tidak. Dan sudah jelas, skenario lulus S1 di umur 24 tahun sudah ada di kepala saya saat itu dan sudah saya coba terima.

Mulai saat itu, saya mulai gencar belajar lagi, karena saya pindah jalur dari Saintek ke Soshum karena mengambil jurusan IPS di ketiga pilihan SBMPTN, akhirnya saya mulai memberanikan diri untuk meminjam buku-buku IPS pada teman-teman saya, tanpa memberitahu langsung bahwa buku-buku itu untuk saya pakai secara pribadi.

Saya ingat sekali saat itu saya belum memiliki buku IPS apapun, sampai akhirnya saya menemukan seseorang melalui sebuah blog yang berniat menghibahkan keseluruhan buku-buku IPS-nya ke siapapun yang menginginkannya tanpa harus membayar sepeserpun, saya hanya perlu mengeluarkan uang untuk ongkos kirimnya saja.

Saat itu saya bersyukur sekali karena memang saya bisa dikatakan tidak memiliki modal apa-apa, satupun buku IPS saya tidak punya. Dan nyatanya setelah paket buku itu sampai, saya lebih bersyukur lagi karena hampir setiap mata pelajaran di setiap tingkat kelas SMA tersedia.

Belum lagi saya juga mendapatkan Paket CD Zenius lengkap semua pelajaran dari teman saya, semakin memudahkan saya dalam belajar saat itu.

Namun walaupun kemudahan sebelumnya terasa menyenangkan, prosesnya tidak berjalan sedemikian baik. Saya sempat merasa down antara membagi waktu perkuliahan di teknik industri sebelumnya dan belajar SBMPTN. Saat itu terlalu banyak praktikum yang menyita waktu, saya seringkali pulang larut malam dalam keadaan lelah, seringkali saya bertanya-tanya pada diri sendiri, “kapan kamu belajar?”

Dari yang awalnya saya duduk paling depan di kelas sampai akhirnya saya berpindah haluan duduk paling belakang dan memilih duduk sendiri untuk belajar SBMPTN tanpa ada yang tau, nilai saya turun drastis saat itu, teman-teman saya sempat keheranan, karena seringkali saya lupa jadwal kelas yang rupanya pindah hari atau saya skip mengerjakan tugas kuliah bahkan saya hampir dinyatakan tidak lulus salah satu praktikum.

Seiring berjalannya waktu, saat hari H ujian, saat itu saya mendapatkan posisi duduk di sudut paling belakang, sebelumnya saya sudah mewanti-wanti pada diri sendiri agar tidak melihat ke arah manapun, bukan untuk mencontek, bukan, tapi saya takut semakin mendapatkan pressure melihat peserta yang lain. Sampai akhirnya di tengah kegundahan saya karena tidak memiliki clue apapun lagi untuk menjawab soal-soal tersebut, saya tidak sengaja melihat ke arah kanan saya, dan terlihat jelas kertas jawaban peserta lain bahkan hampir penuh terisi, sedangkan saya bahkan tidak sampai 3/4 nya.

Walapun banyaknya lingkaran hitam itu tidak menjamin seseorang lolos atau tidak, tapi untuk seseorang yang tidak pernah mengikuti Try Out (TO) apapun sebelumnya ketika berpindah jalur ke soshum saat itu, saya tidak dapat menolak kekhawatiran yang mulai terasa. Alasan saya tidak pernah mengikuti TO jelas, saya tidak ingin ada yang tau kalau saya tes lagi, alasan kenapa saya belajar dari rumah dan tidak megikuti bimbel juga karena itu, saya terlampau tidak ingin mendengar komentar-komentar orang lain yang membuat saya goyah lagi, karena pada dasarnya saat itu pun keyakinan itu belum saya dapatkan 100%.

Sebulan setelahnya, pada hari pengumuman, jam 5 sore saat itu, setelah solat dan membaca Surat Al-Mulk dan memohon diberikan ketenangan dan peneriman oleh Allah SWT., saya akhirnya memberanikan diri membuka situs SBMPTN. Saya tidak berekspektasi banyak, karena terlalu banyak insecure yang saya dapatkan sebelumnya, tapi saat melihat kata “Selamat”, saya sudah sangat bersyukur entah itu pilihan pertama, kedua, atau ketigapun, saya akan dengan senang hati menerima. Dan Alhamdulillah saya lulus di pilihan pertama.

Namun, bahkan sampai dengan pernyataan “lolos” itu saya dapatkan, saya belum sampai hati untuk terus lega, karena saya bahkan belum memberitahu orang tua sama sekali bahwa saya ikut tes lagi. Saat itu saya sempat ragu, karena keadaan ekonomi keluarga sempat sangat kritis, apalagi kenyataan bahwa kuliah di SBM sangat menuntut biaya tinggi, saya semakin ragu, rupanya perasaan senang itu tidak berlangsung lama.

Namun walaupun begitu, saya sempat menuliskan surat untuk Ayah saya tentang alasan saya pindah secara detail, sangking takutnya saya jika harus berbicara face to face, saya bukan orang yang nyaman berbicara banyak, hati dan otak saya lebih tenang dengan menulis, akan lebih jelas jika saya menjelaskan runtut segalanya sampai tuntas, lantas ayah saya bisa mengambil kesimpulan dan keputusan akhirnya, saat itu hati saya sudah jauh lebih menerima, karena saya sudah berjuang sampai titik terakhir, kalaupun orang tua tidak mengizinkan, saya akan berusaha melepaskan, karena ridha mereka teramat berharga untuk keberkahan hidup saya kedepan. Sampai akhirnya ayah saya dengan tersenyum beliau mengatakan mengizinkan saya pindah, saya awalnya merasa takut beliau mengizinkannya karena terpaksa, namun melihat senyumnya, rasanya beda, itu senyum ikhlas, senyum sabar. Dan saya sekali lagi bersyukur untuk kesekian kalinya.

Sudah lega? Belum.

Saat itu, saya benar-benar berniat untuk meringankan beban orang tua saya dengan mencari beasiswa kesana-sini, pengeluaran untuk UKT 20 juta setiap 4 bulan sekali itu hampir tidak mungkin. Sebelum berangkat, saya benar-benar urus berkas apapun yang diperlukan, saya bolak balik ke SMA saya untuk mendapatkan rekomendasi, mengurus surat ke kelurahan, dan lain-lain.

Sampai hari keberangkatan saya dan setelah melewati beberapa bulan masa kuliah, saya sama sekali tidak lega, saya belum bayar UKT sama sekali padahal semester satu sudah hampir menjumpai akhir, bayangan pulang kampung halaman dan melanjutkan kuliah di kampus sebelumnya selalu ada di kepala saya, walaupun statement orang-orang mengatakan ITB tidak akan mengeluarkan mahasiswa yang terhambat membayar uang kuliah, tapi ketakutan itu tetap saya rasakan karena jujur saja sistem SBM sedikit berbeda dengan jurusan lain, saya sudah kabur dari kampus lama tanpa permisi, kembali lagi kesana sungguh tidak terpikirkan oleh saya bagaimana caranya bisa kembali seperti semula seperti sebelum saya pergi, saya sudah terlambat dari teman-teman yang lain.

Saat pertama kali saya gagal mendapatkan beasiswa, saya menelpon ayah saya sambil menangis, ini tidak mudah untuk keluarga kami, orang tua saya benar-benar sangat krisis saat itu, usaha ayah saya sedang diuji, tapi beliau tetap tenang mengatakan mereka akan terus berusaha untuk saya.

Sampai akhirnya saya mendapatkan pengumuman, bahwa saya menjadi salah satu mahasiswa yang mendapat bebas UKT saat itu, walaupun orang tua tetap harus menanggung biaya bulanan, rasanya saya sangat berterima kasih kepada Allah, jalan yang berliku ini akhirnya terlihat ujungnya, berkali-kali saya mengangis mengurus berkas administrasi, bolak balik lembaga kemahasiswaan, mengikuti wawancara, saya teramat lelah secara batin karena buah kerja keras saya belum menampakkan hasil, namun Allah selalu punya waktu yang tepat untuk menjawab doa umatnya. Saya teramat lega!

Mulai saat itu, saya mulai mengikuti perkuliahan dengan tenang.

Sudah selesai sampai disitu?

Belum, saya harus menghadapi tantangan sekali lagi tentang sistem perkuliahan dan pergaulan di SBM. Apapun yang ada di pikiranmu sekarang ketika mendengar kata “pergaulan SBM”, saya rasa hampir semuanya benar. SBM seperti itu, tapi saya bisa bilang tidak semua seperti itu, saya masih survive sampai sekarang, saya juga mendapatkan pembelajaran sosial dan pengembangan diri disana, karena memang SBM lebih dari sekedar kuliah, SBM mengajarkan saya cara survive dan cara berpikir di lingkungan yang sangat jauh berbeda dari lingkungan saya sebelumnya, perbedaan itu terasa sekali, prinsip hidup saya diuji berkali-kali, ke-introvert-an saya teramat sangat membuat saya sulit menerima diri sendiri pada masanya, dan itu teramat banyak membentuk cara berpikir saya sekarang, saya banyak belajar dari perbedaan-perbedaan itu. Saya banyak belajar dari kesalahan, ketidaksesuaian, dan ketidaknyamanan itu. Bahagia yang saya rasakan berbeda, belajar tak harus nyaman selalu, tapi membentuk nyaman sendiri akan jauh lebih baik untuk menyerap ilmu hidup apapun itu.

Setelah melewati badai perkuliahan yang sangat berat itu, tiba saatnya saya menyusun tugas akhir saya, rintangan itu selalu ada, mulai drama pengolahan data, drama kena cacar tiba-tiba, dan drama-drama lainnya. Rasanya setelah skripsi itu terkumpulkan, semuanya terbayar lunas. Teman-teman baik yang tak saya sangka-sangka sangat membantu saya saat itu, meyghan, maverick, ghais, magie, lita, mereka bukan yang terdekat, tapi sangat mengurangi kecemasan saya saat itu dengan banyak membantu saya menghadapi masalah-masalah teknis hingga olah mengolah data yang saya hadapi. Pembelajaran baru lagi bukan? teramat sering saya ditegur untuk tidak menilai siapun dari luarnya.

Walaupun rasanya lega dan bahagia, tapi bukan berarti saya ingin mengulang kembali proses tiga tahun bahkan lima tahun yang lalu, saya selalu melihat bahwa pahitnya sekarang akan manis pada waktunya sendiri, merantau itu betul-betul obat mujarab bagi saya yang jarang bersih-bersih, jarang masuk dapur, jarang ke pasar, gak bisa manajemen duit, dan lain-lain. Walaupun bukan yang terbaik di perkuliahan dan masih terlampau banyak salah bersikap dan berpikir, tapi pengalaman hidupnya terlalu banyak, begitu pun penghargaan untuk ibu dan ayah saya yang terus berusaha dan berdoa untuk saya, saya semakin mengerti sebenar-benarnya usaha dan doa mereka seperti apa, dan juga untuk adik saya yang terkadang teramat sering menunda keinginannya lebih dulu karena kebutuhan kakaknya yang terlampau masih banyak.

Rasanya sekali seumur hidup, kita perlu untuk mengambil jalur berbeda sesekali, yang pasti tidak akan mudah, tapi akhirnya selalu tidak disangka-sangka, selalu ada uang sekolah, tapi di kehidupan nyata, yang pasti tidak selalu berbentuk uang, bisa berbentuk kekhawatiran, kehilangan teman, tangisan, dan lain-lain. Tapi yang saya pahami, yang buruk akan tersingkirkan dengan cara sendirinya, rasanya proses berat itu seperti membersihkan kotoran-kotoran pada diri kita, kotorannya bisa berupa ego tinggi, pemarah, kurang ikhlas, kurang sabar, kurang bersyukur, dan lainnya. Hasilnya semoga membentuk pribadi yang lebih baik. Selain itu, mengikuti intuisi rasanya pilihan yang benar bagi saya jika otak saya sudah terlalu berlebihan berpikir memberikan opsi-opsi yang buruk atau terlalu banyak berpikir negatif, atau ketika saya tidak bisa lagi mengambil keputusan yang benar yang mana, karena bagi saya intuisi itu adalah bentuk jawaban Allah ketika umatnya sudah “sok tau” terlampau banyak menduga-duga menurut asumsinya sendiri. Saya masih banyak belajar, tapi yang jelas, semuanya terasa istimewa ketika selesai dihadapi, perjalanan masih panjang, tapi semoga bekalnya sudah cukup siap, tabung ilmu sudah sedikit terisi, dan bisa saya genggam erat di tangan setelah ini.

 

Notes:
Sistem UKT di SBM ITB setiap tahunnya cenderung berbeda, adik-adik tingkat di bawah saya juga rupanya sistemnya sudah berbeda dibandingkan saya, jadi saya tidak bisa jawab banyak jika ada yang bertanya “caranya” seperti apa, usahalah sebisa yang kamu bisa, urus berkas beasiswa apapun, konsultasikan ke dosen wali, tanyakan kepada lembaga kemahasiswaan, atau kalau kamu cukup memenuhi syarat, silahkan ikut bidik misi, tapi jika kamu termasuk golongan pertengahan, coba cari solusi seperti opsi yang saya jelaskan sebelumnya.

3 thoughts on “A Journey to S.Mn”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.