A Feeling of Home

Personal

Sudah dua hari saya kembali ke jakarta. Terhitung kurang lebih 10 hari saya di kampung halaman. Rasanya menyenangkan, saya bisa tidur siang, bangun pagi dengan pikiran segar. Orang tua pun tidak membebankan saya pekerjaan rumah berarti. Namun, saya berinisiatif mengerjakan beberapa. Saya senang ketika melihat ibu saya merasa terbantu dengan apa yang saya kerjakan, saya senang ibu saya punya waktu beristirahat lebih lama karena beberapa tugas rumah sudah saya selesaikan.

Saya senang perasaan di rumah, saya senang kegiatan merapikan tempat tidur, membersihkan meja dari debu, merapikan lemari pakaian kembali, setrika pakaian, cuci baju, menyapu, memasak, menghidangkan makanan dengan apik, semua prosesnya saya benar-benar nikmati.

Apa yang tidak bisa sepenuhnya bisa saya lakukan di kosan kecil saya disini, saya upayakan direalisasikan di rumah, minus baking yang belum kesampaian. Tapi selebihnya, saya senang perasaan-perasaan plong ketika beres-beres dengan baju rumahan yang basah oleh keringat, dan diakhiri mandi serta keramas dengan baju bersih setelahnya. Melihat semua tertata pada tempatnya, meja rias tanpa debu, seprai kasur yang terpasang ketat di setiap sudutnya, perasaan sederhana yang saya rindukan untuk dikerjakan setiap harinya.

Saya senang berada di rumah, saya senang punya ruang yang saya miliki untuk diri sendiri tanpa harus dibagi dengan orang lain, kecuali mereka yang saya sayangi. Impian sederhana saya adalah punya penghasilan yang cukup untuk membiayai saya tinggal di sebuah tempat yang “mirip rumah”, dimana saya bisa tidur tenang, membaca buku, memasak, memanggang kue, tanpa harus terganggu piring kotor orang lain yang belum tercuci, atau bekas minyak yang menempel di kompor.

Saya benar-benar menikmati “waktu” saya di rumah. Namun, apapun kondisinya sekarang, tentu saya harus bersyukur, berupaya untuk menikmati apapun yang Allah berikan untuk saya, tinggal di rumah sewaan dengan sepetak kamar sederhana yang saya bagi dengan teman, dengan dapur kecil dilengkapi peralatan masak yang cukup, dan udara sejuk tanpa butuh bantuan AC bahkan kipas angin pada beberapa waktu tertentu. Belum ideal memang, saya yakin ada waktunya titik “hampir seimbang” itu bisa saya capai. Untuk sekarang, sudah cukup untuk menjadi tempat saya mengistirahatkan tubuh dan pikiran ketika saya menghadapi dunia luar sebelumnya. “Dunia saya” sedikit demi sedikit sudah terbentuk, saya tak sabar dengan hadiah-hadiah kecil atau besar setelahnya, kejutan-kejutan untuk terus menyusun “rumah impian” saya sendiri. Rasanya masih nikmat karena semua masih cukup dengan porsinya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.